Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Februari 2011

Saham Yang Layak Diburu Hari Ini




BukaBerita (ekonomi) ~ Pelaku pasar diperkirakan masih mengakumulasi saham-saham sektor perbankan pada perdagangan hari ini, Rabu 23 Februari 2011. Selain bank, sektor yang selalu menopang laju Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia, adalah komoditas. "Reli saham bank beberapa hari ini, karena antisipasi laporan keuangan emiten untuk tahun buku 2010 yang diprediksi kinclong," kata pengamat pasar modal, Deni Hamzah saat dihubungi BukaBerita.com di Jakarta, hari ini.

Dia merekomendasikan, saham-saham bank di antaranya PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. Kedua bank tersebut, dalam beberapa hari terakhir telah mengumumkan laporan keuangan mereka sepanjang 2010.

Berdasarkan data publikasi Bank Indonesia per Desember 2010, BCA mencatat laba bersih sebesar Rp8,37 triliun, naik sebesar 23,45 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang hanya Rp6,78 triliun. Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp8,851 triliun (unaudited) hingga akhir 2010, angka tersebut naik 23,6 persen dibandingkan 2009 yang sebesar Rp7,16 triliun (audited).

Kendati demikian, kata dia, investor tetap akan berhati-hati bertransaksi saham pada perdagangan hari ini karena IHSG kemarin ditutup negatif, turun 46,54 (1,34 persen) ke level 3.451,10.

Selain itu, Deni juga merekomendasikan saham sektor energi dan batu bara seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Bumi Recources Tbk (BUMI). "Harganya sudah menarik untuk dikoleksi," kata Dani.

Kecenderungan harga batu bara yang naik semenjak awal tahun, kata dia, juga menjadi salah satu alasan. Pasar batu bara New Castle menetapkan harga  sebesar US$126,64 per ton.

Sementara itu, Pardomuan Sihombing, head of research PT Recapital Securities berpendapat, sebaiknya pemodal membeli saham-saham yang menjanjikan di saat IHSG yang masih berpotensi mengalami tekanan akibat sentimen bursa global. "Sahamnya yakni BUMI, ANTM (PT Aneka Tambang Tbk), AALI (PT Astra Agro Lestari Tbk), dan LSIP (PT PP London Sumatra Indonesia Tbk)," tuturnya.

Sebab, kata dia, saham-saham tersebut terkait dengan sentimen penguatan harga komoditas yang cenderung naik terbawa penguatan harga minyak mentah dunia seiring semakin panasnya situasi politik di Timur Tengah, paska kerusuhan Mesir dan Tunisia.

Diketahui, berdasarkan data Bursa Efek Indoensia saham-saham tersebut terbukti masuk dalam sepuluh besar saham teraktif, dan mampu menahan kejatuhan indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Selasa 22 Februari 2011.

Saham dengan kode PGAS tercatat masuk dalam 10 besar daftar efek yang paling banyak atau aktif ditransaksikan pada perdagangan Selasa. PGAS bercokol di posisi kedua dengan frekuensi sebanyak 3.923 kali, tetapi harganya melemah Rp75 (1,98 persen) ke level Rp3.700.

Namun, pada perdagangan kemarin, saham PGAS tidak seluruhnya terjadi transaksi (done), sehingga memiliki sisa penawaran beli (bid) yaitu mencapai 53.707 lot. Sementara itu, transaksi yang terjadi sebanyak 121.601 lot.

Saham Bank Mandiri berada di posisi ketiga karena tercatat memiliki frekuensi sebanyak 2.123 kali, dengan harga saham melemah Rp50 atau 0,83 persen menjadi Rp5.950. Saham bank pelat merah tersebut menyisakan penawaran beli mencapai 25.943 lot, dengan transaksi yang terjadi sebanyak 116.569 lot.

BUMI bercokol di urutan enam, dengan saham yang ditransaksikan sebanyak 1.649 kali. Di mana harga saham terkoreksi Rp75 (2,70 persen) ke level Rp2.700. Saham ini terjadi transaksi 144.264 lot, dengan sisa penawaran beli sebanyak 71.426 lot.

Sedangkan saham BCA berada di urutan 19 dalam daftar saham teraktif, karena ditransaksikan mencapai 963 kali, dengan saham stagnan di level Rp6.250. Saham bank ini terjadi transaksi sebanyak 39.159 lot, dengan sisa penawaran beli mencapai 23.718 lot.

Sementara itu, saham dengan kode LSIP menempati posisi 20 dengan frekuensi tercatat 955 kali. Harga saham melemah Rp100 atau 0,90 persen menjadi Rp10.900, dengan menyisakan penawaran beli sebanyak 5.306 lot dan terjadi transaksi mencapai 8.346 lot.

Kemudian, saham komoditas perkebunan lainnya, AALI menempati posisi 37 dengan frekuensi tercatat 671 kali. Harga saham menguat Rp200 atau 0,90 persen menjadi Rp22.250, dengan menyisakan penawaran beli sebanyak 343 lot dan terjadi transaksi mencapai 2.756 lot.

Sedangkan saham Antam jauh berada di posisi 42 saham paling banyak ditransaksikan, karena hanya mencatat frekuensi 620 kali, dengan harga saham naik Rp25 (1,12 persen) menjadi Rp2.200. Saham ini menyisakan penawaran beli hanya sebanyak 30.801 lot dan terjadi transaksi mencapai 18.061 lot.

Kamis, 17 Februari 2011

Laba Danamon Rp2,88 triliun di Tahun 2010




BukaBerita (Ekonomi) ~ PT Bank Danamon Tbk membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,883 triliun pada 2010. Laba itu melambung 88 persen dibanding tahun 2009 sebesar Rp1,53 triliun.

Kenaikan itu didukung oleh pendapatan non bunga selain dari pertumbuhan kredit di semua segmen nasabah, khususnya usaha mikro, kecil dan menengah.

Sementara untuk penyaluran kredit, total kredit Danamon mencapai Rp82,658 triliun, tumbuh 31 persen dari Rp63,278 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kondisi ekonomi makro Indonesia sepanjang tahun 2010 kondusif bagi pertumbuhan kredit kami di semua lini usaha,” kata Direktur Utama Danamon Henry Ho di Jakarta, Kamis, 17 Februari 2011.

Laba itu didukung pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang mencapai 5 persen, pendapatan bunga bersih mencapai Rp9,908 triliun dari Rp9,462 triliun di akhir tahun sebelumnya. Selain itu, kinerja Danamon didukung oleh pendapatan non bunga, seperti transaction services, trade finance, asuransi serta keuntungan dari penjualan surat-surat berharga.

Kredit bagi nasabah di segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), mencatat pertumbuhan sebesar 24 persen secara setahunan, mencapai Rp26,565 triliun dan mencakup 32 peren dari total kredit Danamon pada akhir 2010.

Kredit korporasi dan komersial Danamon mencatatkan peningkatan sebesar 21 persen menjadi Rp16,272 triliun dari Rp13,394 triliun di tahun 2009.

Sementara rasio kredit bermasalah/NPL gross Danamon di level 3 persen di akhir Desember 2010 atau turun dari 4,5 persen di tahun 2009. Untuk rasio krdit terhadap total dana pihak ketiga (LDR) mencapai 93,8 persen.
Return on Average Asset (ROAA) Danamon tercatat 2,8 persen untuk tahun 2010, sementara Return on Average Equity (ROAE) mencapai 18,5 persen. Pada akhir Desember 2010, Rasio Kecukupan Modal (CAR) di level 16 persen dengan memperhitungkan resiko operasional.

Baca Juga:

Minggu, 06 Februari 2011

BI Rate Naik, BTN Belum Tingkatkan Suku Bunga




BukaBerita (Ekonomi) ~ Bank Tabungan Negara (BTN) belum berencana menaikkan suku bunganya menyusul naiknya BI Rate sebesar sebesar 25 basis poin atau menjadi 6,75 persen dari level 6,5 persen.

"Belum tentu menaikkan suku bunga. Kami tidak akan reaktif. Lihat perkembangan terlebih dahulu," kata Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara, Iqbal Latanro, di sela HUT BTN ke-61 di kantor Bank BTN, Minggu, 6 Februari 2011.

Saat ini, menurutnya besaran suku bunga untuk perumahan program pemerintah sebesar 8,1 sampai 8,5 persen, sementara untuk Kredit Perumahan Rakyat sebesar 11,5 persen.

Dia mengaku masih optimistis dan tidak akan segera menaikkan suku bunga, meski diakuinya BI rate memang merupakan suku bunga acuan.

Pemerintah sendiri berharap kalangan perbankan tidak latah menaikkan tingkat suku bunga setelah Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin. Sebab, perbankan masih memiliki spread cukup lebar dari pengenaan bunga yang berlaku selama ini. 

Jumat lalu, Bank Indonesia akhirnya menaikkan suku bunga acuan setelah mempertahankannya sebanyak 18 kali. Keputusan ini didasarkan faktor inflasi karena kenaikan harga pangan.

Baca Juga:

Senin, 31 Januari 2011

Krisis Mesir, Harga Minyak Lampaui US$100




Minyak Mesir
BukaBerita (Ekonomi) ~ Krisis politik di Mesir membuat harga minyak di bursa utama dunia naik. Bahkan, sudah ada yang mencetak lebih dari US$100 per barel.

Menurut kantor berita Associated Press, harga minyak Brent di bursa London Senin sore 31 Januari 2011 waktu setempat naik US$1,59 menjadi US$101,01 per barel. Harga minyak Brent tidak hanya menjadi patokan bagi perdagangan minyak di bursa Eropa, namun juga di Asia.

Di bursa New York, harga minyak mentah light sweet di papan perdagangan elektronik pada Senin malam waktu setempat mencapai US$92,11 per barel, melemah 0,09 persen. Sebelumnya, harga minyak di New York naik US$4,32 atau 4,92 persen menjadi US$92,19 per barel, demikian menurut laman CNN Money. 

Menurut kalangan pengamat, gejolak di Mesir dalam beberapa hari terakhir turut mengkhawatirkan para investor di pasar minyak. Kendati bukan termasuk kelompok produsen utama, Mesir memiliki perairan yang strategis untuk pengapalan minyak, yaitu Terusan Suez. Setiap hari, sekitar dua juta barel minyak mentah melewati perairan itu.

Mesir pun memiliki jaringan pipa minyak. Hingga awal pekan ini, Terusan Suez masih terbuka dan pengapalan minyak di wilayah itu masih berjalan normal.

Namun, para investor di bursa minyak akhirnya khawatir bahwa distribusi minyak yang melewati Mesir akan terganggu bila gelombang demonstrasi anti Presiden Hosni Mubarak itu tidak segera berakhir.

"Para pengamat tidak yakin bila krisis itu langsung mengancam distribusi, namun kemungkinan ke arah itu tetap ada," demikian penilaian lembaga konsultan energi, Cameron Hannover seperti dikutip AP. 

Pelaku pasar pun khawatir bahwa gejolak di Mesir, yang terinsiprasi oleh revolusi di Tunisia dan protes massal di Yaman, bisa menyebar ke produsen-produsen utama minyak mentah, seperti Arab Saudi. Masalahnya, Mesir merupakan negara terbesar di dunia Arab dan ini memiliki pengaruh bagi stabilitas di negara-negara sesama Arab lainnya, termasuk Saudi.

"Melihatnya pentingnya peran Mesir dalam dunia Arab dan Timur Tengah. Gejolak ini menambah kegelisahan baru di pasar minyak," kata James Bukhard, pengamat dari Global Oil dalam analisinya di lembaga IHS CERA.

Baca Juga:

Mustafa: Gaji BUMN Turun, CEO Bisa Kabur




BukaBerita (Ekonomi) ~ Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengakui gaji sejumlah direksi perusahaan pemerintah saat ini memang ada yang melampaui penerimaan gaji Presiden RI. Namun jika dibandingkan dengan gaji eksekutif swasta di sektor bisnis yang sama, gaji petinggi BUMN masih lebih kecil.

"Kami sudah perhitungkan semua,  mohon dimengerti. Kami bukan semena-mena," kata Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar usai Rapat Koordinasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin, 31 Januari 2011.

Seperti diketahui, gaji petinggi BUMN memang jauh melebihi gaji Presiden. Sebut saja misalnya penghasilan Direktur Utama Bank Mandiri, dalam satu bulan jika dirata-rata bisa mencapai Rp700 jutaan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun pernah menyinggung jika gaji direksi BUMN yang cukup tinggi. "Jangan sampai ada yang gajinya 10 kali lipat gaji Presiden, tetapi tidak lebih sregep."

Mustafa setuju penyesuaian gaji pejabat negara perlu dilakukan. Menurutnya, sebagai seorang yang memiliki tanggung jawab yang besar, gaji yang diterima kepala negara semestinya tidak kalah besar dengan direksi BUMN.

Namun, Mustafa mengingatkan tidak bisa begitu saja menurunkan gaji petinggi BUMN. Pasalnya, jika gaji direksi BUMN diturunkan dan angkanya lebih rendah dari perusahaan pesaing di industri sejenis, maka karyawan dan direksi BUMN akan lebih memilih kabur ke perusahaan lain.

"Kita nanti hanya akan dapat chief executive officer (CEO) kualitas dua dan BUMN kita bisa lemah," kata Mustafa. "Sekarang ini, susah mencari CEO yang handal."

Terkait tantiem yang jumlahnya bisa mencapai miliaran, Mustafa mengatakan bonus tersebut merupakan hal normatif dan berlakukan secara internasional di seluruh perusahaan swasta.
Baca Juga:

Menkeu: Gaji Presiden Tidak Bisa Dibandingkan Gaji Direksi BUMN




BukaBerita (Ekonomi) ~ Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan pendapatan yang diterima direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan gubernur Bank Indonesia (BI) tidak akan menjadi pembanding dalam menetapkan penyesuaian gaji pejabat negara termasuk Presiden Republik Indonesia.

Kementerian Keuangan hanya akan membuat perhitungan pendapatan pejabat negara berdasarkan nilai pekerjaannya (job grade). Artinya, jika pekerjaan pejabat memiliki risiko besar, lingkup tugas luas, dan tanggung jawab tinggi, pendapatan yang diterima akan lebih tinggi.

"Kalau ingin dibandingkan, misalnya dengan direksi BUMN atau gubernur Bank Indonesia, saat ini (gaji) presiden di bawah sekali," kata Agus usai rapat koordinasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jalan Wahidin, Jakarta, Senin, 31 Januari 2011.

Menurut Agus, gaji presiden merupakan yang tertinggi untuk kategori pejabat pemerintahan. Dengan demikian, diperlukan kalibrasi atau pengujian yang tepat untuk menentukan pendapatan pejabat negara, baik untuk tingkat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. "Gubernur BI itu bukan pejabat negara," ujarnya.

Kalibrasi tersebut nantinya didasarkan pada nilai pekerjaan atau job grade tersebut. Untuk struktur pemerintahan, presiden merupakan jabatan tertinggi dengan job grade terbesar.

Agus menambahkan, pendapatan presiden tidak bisa dibandingkan dengan direksi BUMN karena perhitungan gaji direksi perusahaan pelat merah didasarkan pada kondisi pasar. Apalagi, beberapa BUMN merupakan perusahaan yang harus mencari keuntungan.

"BUMN tentunya harus dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan swasta, khususnya perusahaan publik. Jadi, mereka ada tanggung jawab untuk mengejar kualitas dan keuntungan," tuturnya.

Perhitungan remunerasi atau tunjangan kinerja di lingkungan perusahaan swasta, dia melanjutkan, didasarkan pada praktik terbaik (based practise) sesuai statusnya sebagai perusahaan publik. "Kalau perusahaannya belum publik dan merugi terus, tentunya harus beda lagi," ujar dia.

Jika dibandingkan, gaji Gubernur BI dan eksekutif BUMN yang jauh melebihi gaji orang nomor satu Republik Indonesia tersebut. Seorang Gubernur BI, mendapatkan gaji pokok Rp41,1 juta plus tunjangan jabatan Rp121,4 juta per bulan. Jika ditambah dengan beragam tunjangan, Gubernur BI bisa memperoleh Rp2,4 miliar per tahun.
Sedangkan, eksekutif BUMN memperoleh penghasilan lebih tinggi lagi. Sebut saja misalnya, seorang direktur utama Bank Mandiri, penghasilan per tahun bisa mencapai Rp7 miliar atau lebih dari Rp700 juta per bulan.]

Baca Juga:

    Jumat, 28 Januari 2011

    Dirut Bank Mandiri: Silahkan Cek Gaji Saya




    BukaBeritaOnline ~ Sejumlah eksekutif Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki gaji yang cukup tinggi. Bahkan, dari beberapa BUMN besar, jajaran direksinya memperoleh gaji di atas Rp100 juta per bulan.

    Direksi PT Bank Mandiri Tbk misalnya, berdasarkan hasil rapat umum pemegang (RUPS) 4 Mei 2009, gaji yang diterima direksi Mandiri mencapai Rp166 juta per bulan.

    Menanggapi tingginya gaji yang diterima tersebut, Direktur Utama Bank Mandiri, Zulkifli Zaini, justru balik bertanya. "Teman-teman bisa cek, apa gaji saya yang tertinggi atau terendah," kata Zulkifli di kantornya, Jakarta, Jumat 28 Januari 2011.

    Menurut dia, gaji yang diterima direksi bank ada ukurannya dan disesuaikan dengan skala bank. "Apakah bank kecil atau bank besar, remunerasinya berdasarkan ukurannya," ujarnya.

    Sambil bergurau Zulkifli lalu menyatakan, "Cobalah dibandingkan sendiri. Kalau memang ternyata gaji saya kecil, tolong beritahu saya." Namun, dirinya juga tidak ingin membandingkan gaji presiden dengan korporasi.
    Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan ada gaji direksi BUMN yang mencapai 10 kali lipat dari gajinya. "Tidak apa-apa. Yang penting kinerjanya baik. Jangan sampai gajinya 10 kali lipat gaji presiden, namun tidak lebih sregep  (rajin)," kata Presiden.

    Sementara itu, Menteri BUMN Mustafa Abubakar juga siap mengevaluasi besaran gaji eksekutif BUMN terkait adanya upaya pembenahan struktur gaji pejabat negara.
    "Itu semua akan kami evaluasi. Gaji dan bonus kami berikan secara layak. Kami serahkan kepada tim yang mengkaji secara menyeluruh dan komprehensif," ujarnya.

    Baca Juga:

    SBY: Gaji Direksi BUMN Melebihi Presiden




    BukaBeritaOnline ~ Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai sebagian direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki gaji di atas Presiden. Belajar dari krisis global beberapa waktu lalu, banyak perusahaan jatuh di dunia cenderung mengalokasikan belanja pegawai terlalu tinggi.

    "Tidak apa-apa. Yang penting kinerjanya baik. Jangan sampai ada yang gajinya 10 kali lipat gaji Presiden, namun tidak lebih sregep (rajin)," kata Presiden pada acara Indonesia Bussiness-BUMN Expo and Conference di JCC, Jakarta, Kamis 23 September 2010.

    Presiden berharap direksi BUMN bergaji besar namun tidak menunjukkan kinerja bagus dapat menjadi evaluasi para menteri bidang ekonomi. SBY juga meminta ada evaluasi mengenai BUMN.

    Dia menekankan BUMN yang tidak efisien, tidak produktif, dan tetap merugi serta tidak memiliki prospek apa pun, sebaiknya dilakukan penggabungan, likuidasi atau reformasi. "Dengan kontrol dari masyarakat, BUMN diharapkan makin bagus," tuturnya.

    Presiden mengingatkan, kewajiban BUMN berbeda dengan perusahaan multinasional. Fungsi BUMN sebagai public service obligation (PSO) harus terus dijalankan sesuai aturan yang berlaku. "Jangan mendudukkan diri sebagai pedang untuk menebas yang lemah. Tapi, pedang yang mengayomi dan mengajak yang lemah," ujarnya.

    SBY juga berharap BUMN meneruskan kemitraan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi. "BUMN hidup bersama rakyat, ulurkan bantuan dalam program CSR (corporate social responsibility), itu saja sudah tinggi pahalanya," kata dia. "Oleh karena itu saya berterima kasih BUMN menyelenggarakan pasar murah."

    Baca Juga:
    sumber: vivanews

    Rabu, 26 Januari 2011

    Daftar Gaji Pokok BI




    BukaBeritaOnline ~ Tingginya gaji yang diperoleh gubernur Bank Indonesia hingga mencapai Rp250 juta per bulan membuat BI menjadi lembaga dengan gaji tertinggi.

    Ternyata, besarnya gaji yang diterima pegawai dan deputi Gubernur BI berasal dari berbagai macam tunjangan yang diterima. Gaji pokok pucuk pimpinan BI atau gubernur BI hanya Rp41,1 juta. Jauh lebih rendah dibanding presiden sebesar Rp62 juta.
    Menurut Wakil Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Harry Azhar Azis, disparitas gaji antara gubernur BI dan pegawai terendah cukup lebar yaitu 80 kali lipat.
    "Gaji pokok gubernur BI Rp41,1 juta, tapi gaji pegawai paling rendah Rp500 ribu," kata Harry kepada di Jakarta.

    Lantas, berapa gaji pokok pegawai BI? Berikut daftarnya dari Anggaran Tahunan BI yang diajukan kepada DPR:

    No Jabatan Besar Gaji Pokok
    1 Gubernur BI Rp41,1 juta
    2 Deputi Gubernur Senior BI Rp35 juta
    3 Deputi Gubernur Rp31,9 juta
    4 Direktur Rp12-36,6 juta
    5 Deputi Direktur Rp6,9-20,4 juta
    6 Kepala Bagian Rp5,6-20,9 juta
    7 Deputi Kepala Bagian Rp3,1-12,4 juta
    8 Kepala Seksi Rp2,1-8,3 juta
    9 Staff Rp1,7-4,6 juta
    10 Pegawai TU Rp800 ribu-Rp2,1 juta
    11 Pegawai Dasar Rp500 ribu-Rp1,4 juta 

    Kamis, 20 Januari 2011

    Saham-Saham Pilihan Akhir Pekan




    BukaBeritaOnline ~ Pelaku pasar sepertinya tetap memburu saham-saham sektor infrastruktur pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat 21 Januari 2011, seiring indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia yang rawan terkoreksi.

    "Investor masih memburu saham-saham infrastruktur," kata Robin Setiawan, analis sebuah sekuritas di Jakarta.

    Robin mengakui, langkah pemerintah yang sedang giat-giatnya mencanangkan berbagai prasarana dan fasilitas sektor infrastruktur yang belum selesai dan baru akan dibangun seperti berbagai prasarana infrastruktur jalan maupun jembatan bakal memberikan sentimen positif pada saham di sektor tersebut. "Saham emiten yang bergerak di jalan tol maupun pembangunannya tetap menarik," ujarnya.

    Infrastruktur lainnya, kata dia, seperti perusahaan yang rajin membangun pembangkit tenaga listik turut menjadi pilihan pelaku pasar di lantai bursa. "Saham-saham antara lain, JSMR (PT Jasa Marga Tbk), META (PT Nusantara Infrastructure Tbk), dan TRUB (PT Truba Alam Manunggal Enggineering Tbk)," tutur Robin.

    Seperti diketahui, IHSG di lantai bursa ditutup terkoreksi 80,17 poin atau 2,26 persen ke level 3.454,12 pada transaksi kemarin. Penurunan tajam IHSG tersebut dikontribusi pelemahan sektor komoditas perkebunan maupun tambang, sedangkan sektor infrastruktur tercatat turun 15,05 poin (1,86 persen) di posisi 791.934.

    Sementara itu, analis PT Anugerah Securindo Viviet S Putri mengaku pelaku pasar akan mengantisipasi laju saham perbankan terkait rencana Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. "Pasar masih menunggu, tapi untuk jangka pendek saham bankan tetap menarik," kata dia.

    Saham tersebut antara lain, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Meski indeks sektor perbankan mengalami penurunan kemarin, BMRI ditutup positif pada posisi Rp5.800. Sedangkan BBRI hanya turun ke level Rp4.775.

    Sebelumnya, Regional Chartist CIMB Group Nigel Foo mengingatkan IHSG saat ini masuk 3 year cycle peak di tahun 2011, jika tidak ada pembalikan arah (rebound) hingga akhir Januari, indeks akan berbalik arah. Indeks saham gabungan kemarin mengalami koreksi terdalam didorong pelemahan bursa regional. Indeks melemah hingga menyentuh level 3.454,12 merupakan posisi terendah dalam lima bulan terakhir. Seluruh sektor industri Bursa Efek Indonesia juga mengalami penurunan rata-rata dua persen.

    Baca Juga:

    Jumat, 17 Desember 2010

    Piutang Negara Rp62 T, Baru Tertagih Rp553 M


     

    BukaBekrita ~ Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan masih mencatatkan jumlah piutang yang cukup tinggi. Per 31 Oktober 2010, piutang yang ada masih Rp62,64 triliun atau hampir tidak bergeser dibanding posisi Maret lalu Rp62,18 triliun.

    Direktur Jenderal Kekayaan Negara Hadiyanto mengatakan, komposisi piutang negara itu adalah piutang perbankan sebesar 32 persen atau sekitar Rp20,36 triliun. Sementara itu, piutang non perbankan sebesar Rp42,28 triliun atau 68 persen.

    Piutang perbankan itu berasal dari penyerahan piutang perbankan Badan Usaha Milik Negara. Sedangkan piutang non perbankan adalah piutang instansi pemerintah termasuk eks Badan Penyehatan Perbankan Nasional.

    Per November 2010, jumlah piutang negara dapat diselesaikan sebesar Rp553,2 miliar dari target Rp770 miliar. Sedangkan biaya administratif pengurusan piutang negara yang menjadi penerimaan negara bukan pajak dan disetorkan ke kas negara sebesar Rp46,81 miliar atau 69 persen dari target Rp67,75 miliar.

    Hadiyanto mengatakan, terkait masih tingginya piutang negara itu, Ditjen Kekayaan Negara telah menyusun roadmap percepatan penyelesaian outstanding piutang tersebut. Roadmap itu terdiri atas 14 program, di antaranya penertiban berkas kasus piutang negara di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara.

    "Ini semua ditata lagi, dicek, datanya dibenahi lagi, dibetulin, dan dipastikan bahwa jumlah dokumen semuanya lengkap," tuturnya.

    Dalam lelang aset, menurut dia, pemulihan atas utang tertanggung oleh para obligor ada yang 100 persen. Namun, ada yang hanya 20 persen. Untuk itu, penyelesaian dengan melengkapi dokumen secara valid dan memperbaiki kualitas penilaian akan semakin memantapkan pengelolaan aset piutang.

    Langkah lain di antaranya dengan menyusun rancangan undang-undang pengurusan piutang negara daerah. Saat ini, drafnya telah selesai diharmonisasi di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

    Dengan demikian, menurut dia, akan terdapat kepastian hukum mengenai pengurusan piutang negara dan BUMN. Melalui aturan ini, akan ditegaskan bahwa piutang BUMN bukan merupakan piutang negara, sehingga pengurusan pengelolaan dan penyelesaian piutang BUMN tunduk kepada tata kelola, ketentuan perundang-undangan perseroan terbatas dan UU BUMN.

    "Jadi, nanti dapat diselesaikan menurut mekanisme korporasi, karena outstanding piutang negara yang cukup besar itu," kata dia.

    Baca Juga:
    sumber: vivanews

    Selasa, 14 Desember 2010

    China Geser Amerika, Indonesia Masuk 5 Besar?


     

    BukaBerita - Perekonomian dunia kini berada dalam super-cycle (siklus-super). Ini adalah masa pertumbuhan global historis yang tinggi, yang berlangsung satu generasi atau lebih. Super-cycle yang ditandai dengan munculnya  pertumbuhan ekonomi yang cepat ini dinikmati oleh negara seperti Cina, India dan Indonesia sekarang.
    Ada banyak faktor pendorong terjadinya hal ini, termasuk peningkatan perdagangan, tingginya tingkat investasi, urbanisasi yang cepat dan inovasi teknologi.

    Dalam sejarahnya, perekonomian dunia telah dua kali menikmati super-cycle sebelumnya. Pertama, 1870-1913, mengalami pick-up signifikan pada pertumbuhan global. Rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia setiap tahun sebesar 2,7%, satu persen lebih tinggi dari sebelumnya. Siklus itu dipimpin oleh munculnya Amerika Serikat, serta munculnya peningkatan perdagangan dan penggunaan teknologi yang lebih besar dari Revolusi Industri.

    Super siklus kedua, dari 1945 hingga awal 1970-an, pertumbuhan rata-rata 5% dan ditandai oleh rekonstruksi pasca-Perang dan catch-up di sebagian besar dunia. Ini juga ditandai oleh munculnya kelas menengah yang besar di Barat dan negara-negara pengekspor di Asia, dipimpin oleh Jepang.

    Sekarang, kita mungkin berada dalam super-cycle yang berbeda, namun dengan aspek-aspek serupa seperti dua super-cycle sebelumnya.

    Bagi orang-orang di Asia dan di seluruh dunia, muncul ide pertumbuhan mungkin terdengar tidak biasa. Tapi bagi banyak orang di Barat, pikiran dari Super-Cycle bukan hal aneh mengingat masalah inilah yang dihadapi perekonomian dunia. Faktanya,ekonomi dunia sekarang lebih dari US$62 triliun, sekitar dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu, bahkan telah melampaui puncak pra-resesi.

    Selama dua tahun terakhir, ekonomi telah rebound didorong oleh kebijakan stimulus di Barat dan oleh pertumbuhan kuat di Timur. Memang, pasar di negara-negara berkembang, yang merupakan sepertiga dari ekonomi dunia, saat ini mencapai dua-pertiga pertumbuhannya. Tren ini tampaknya akan terus berlanjut.

    Pada tahun 2030, perekonomian dunia bisa tumbuh menjadi US$308 triliun. Proyeksi ini berarti tingkat pertumbuhan riil sebesar 3,5% untuk periode mulai tahun 2000 -- saat Super-Cycle dimulai -- hingga 2030. Atau rata-rata pertumbuhan riil sebesar 3,9% dari sekarang hingga 2030. Ini akan menjadi kemajuan signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan 2,8% selama 1973 hingga 2000.

    Situasi yang luar biasa tidak hanya berupa kemungkinan skala ekspansi ini, tetapi juga ramalan yang didasarkan pada proyeksi pertumbuhan yang terlalu berhati-hati. Misalnya, China diperkirakan akan tumbuh rata-rata 6,9% per tahun selama periode tahun 2030 dan India sebesar 9,3%.

    Pada tahun 2030, India mungkin telah menjadi ekonomi terbesar ketiga di dunia. Selain itu, Indonesia, yang saat ini perekonomian peringkat 18 terbesar kemungkinan besar akan pindah menjadi lima terbesar dunia dalam jangka waktu dua puluh tahun saja, setelah menikmati hampir rata-rata 7% pertumbuhan selama periode tersebut.

    Memang, selalu ada risiko yang dapat mempengaruhi pertumbuhan global. Super-cycle pertama berakhir dengan pecahnya Perang Dunia Pertama, yang kedua dengan guncangan minyak bumi diawal tahun tujuh puluhan. Namun, kali ini semoga dunia mempunyai posisi lebih baik untuk mengatasi risiko munculnya badan pengambil keputusan internasional dan forum kebijakan seperti G20.

    Sangatlah penting menekankan bahwa super cycle bukan berarti pertumbuhan akan terus menguat selama seluruh periode. Dalam tiga atau empat tahun terakhir saya termasuk di antara yang paling pesimis tentang pertumbuhan ekonomi AS. Saya masih berhati-hati karena perekonomian AS masih akan berjuang di tahun depan dengan pertumbuhan di bawah tren. Demikian juga Eropa dan Jepang, keduanya akan menghadapi prospek jangka pendek yang masih lesu dengan pertumbuhan datar.

    Karena itu, perkembangan akan lebih luar biasa jika Asia dapat mendorong lebih banyak pertumbuhan mereka sendiri. Apalagi hal tersebut sangat dibutuhkan dunia.

    Tahun depan, China akan melihat tahun pertama dari rencana lima-tahunan ke-12. Hal ini seharusnya akan membantu pertumbuhan mereka. Namun demikian, bank sentral China dan lainnya di seluruh Asia akan melakukan pengetatan kebijakan untuk menahan inflasi. Pada gilirannya, hal ini harusnya memungkinkan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, namun dengan tingkat yang mendekati atau bahkan di bawah yang terlihat pada tahun ini. Jadi, dalam Super-Cycle, jelas akan ada tantangan bagi para pembuat kebijakan.

    Sebagaimana pentingnya untuk fokus pada tantangan jangka pendek, namun sangat penting tetap melihat peluang jangka panjang. Selama Super-Cycle, kami percaya bahwa China bisa menggantikan AS sebagai perekonomian terbesar dunia pada 2020, jauh lebih cepat daripada yang banyak pihak prediksikan.

    Namun, dari perkiraan itu yang paling penting adalah cerita yang terjadi dibaliknya.

    Tak bisa dipungkiri, ada skala perekonomian yang tengah berkembang. Seiring dengan pertumbuhannya, negara-negara berkembang akan memberikan pengaruh lebih besar pada perekonomian dunia. Begitupun dengan dampak dari pertumbuhan koridor-koridor perdagangan baru. Hampir 85% dari populasi dunia kini semakin saling terkait melalui perdagangan, sehingga memungkinkan  pertambahan jumlah orang yang akan berkontribusi pada perekonomian global.

    Sumber-sumber pendanaan akan menjadi penggerak pertumbuhan yang penting, mengingat tingginya kebutuhan investasi, khususnya di bidang infrastruktur. Lalu ada hal lain yang saya sebut perspiration atau keringat dari makin banyaknya jumlah orang yang bekerja dan berbelanja, dan juga kreativitas yang makin besar atas inovasi dan teknologi.

    Negara-negara yang akan berhasil adalah negara yang paling banyak memiliki uang tunai, komoditas dan kreativitas. Dalam beberapa tahun terakhir saya kerap menjelaskan keadaan yang tengah terjadi sebagai New World Order, mencerminkan pergeseran keseimbangan kekuatan ekonomi dan keuangan dari Barat ke Timur.

    Nah, di tengah pergeseran ini masih berlaku, Super-Cycle lebih tepat mencerminkan apa yang sedang terjadi. Barat masih sangat mungkin berhasil dengan lingkungan seperti ini, terutama jika perekonomian di sana kreatif. Namun sudah jelas bahwa Asia akan muncul menjadi pemenang.

    Penulis: Dr Lyons Gerard
    Head of Global Research and Chief Economist di Standard Chartered Bank

    Liriklah Saham Batubara


       


    BukaBerita - Setelah gagal rebaound, Indeks Harga Saham Gabungan kemarin ditutup melemah tipis 2,566 poin (0,07 persen) ke level 3.689,666. Indeks saham Rabu ini, 15 Desember 2010, diperkirakan masih bergerak pada level 3.650-3.710 atau 3.665-3.725

    "Kita masih menunggu dulu, meski regional naik tapi indeks belum kelihatan akan naik," kata Analis Universal Broker Satrio Utomo. Sejumlah investor,lanjutnya, diperkirakan masih melakukan aksi tunggu pada perdagangan hari ini. "Masih tergantung pasar regional," ujar Satrio.

    Aksi tunggu itu dilakukan lantaran saham-saham unggulan masih dipatok pada harga tinggi. "Saya masih ngeri melihat Astra (PT Astra International Tbk),"  kata dia. Saham dengan kode ASII ini kemarin ditutup menguat ke Rp52.800.

    Dia juga memperkirakan bahwa pergerakan saham perbankkan belum menjanjikan. "Kemarin hanya Bank Mandiri saja yang kelihatan baik. Bank Central Asia dan lainnya belum kelihatan," kata dia.

    Satrio menduga naiknya saham Bank Mandiri lebih banyak didorong oleh rencana penerbitan saham baru (rights issue) yang akan dilakukan pada Januari mendatang.  Lantaran cuma Mandiri yang mau jual saham barum, maka "Dia naik sendirian," kata dia.

    Investor juga diperkirakan akan memperhatikan isu penundaan pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi, dari rencana semula awal Januari menjadi Maret 2011. Satrio mengatakan, mundurnya pembatasan BBM akan menambah sentimen positif pasar.

    "Paling tidak, untuk jangka pendek ekspektasi kenaikan inflasi akan berkurang," kata dia.

    Meski dibayangi kewajiban pasok domestik sebesar 38 persen produksi atau 90 juta ton pada tahun depan, Satrio masih merekomendasikan saham-saham komoditas batu bara. Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), misalnya, hari ini diperkirakan bergerak pada kisaran Rp40.900. Lalu saham PT Perusahaan Batubara Bukit Asam (PTBA) yang bergerak pada level Rp20.900 - Rp21000.

    "Saya sebenarnya masih khawatir dengan saham PT United Tractors Tbk, tapi selama saham PT Bumi Resources Tbk belum rontok, batu bara masih oke,"  kata dia.

    Baca Juga:
    sumber: vivanews

    Rabu, 08 Desember 2010

    BTN Masuki Bisnis Kartu Kredit

    BukaBerita - Lama berkecimpung di bisnis kredit perumahan, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mulai merambah bisnis kartu kredit. BTN menggandeng PT Bank Mandiri untuk menerbitkan kartu kredit co brand BTN. BTN membidik 10 persen dari 1,5 juta nasabah untuk bisa memiliki kartu kredit ini.

    "Kalau bisa 10 persen saja, sudah 150 ribu nasabah kartu kredit, itu belum ditambah nasabah baru," kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro usai Penandangan Perjanjian Kerjasama BTN dan Mandiri di Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu, 8 Desember 2010.

    Menurut Iqbal, pilihan menggandeng Bank Mandiri karena dari bank-bank yang ikut seleksi, bank hasil gabungan 4 bank pemerintah itu dianggap lebih baik.

    Selain itu, dibutuhkan waktu dan investasi cukup lama untuk menerbitkan kartu kredit dengan nama sendiri.

    "Target kami ingin menjadi bank keluarga dan kebutuhan cukup banyak salah satu caranya dengan menerbitkan kartu kredit," kata Iqbal.

    Manajemen juga berharap dengan dimulainya bisnis baru ini, BTN bisa memperoleh sumber pendapatan lain disamping bisnis kredit perumahan.

    "Diharapkan akan ada nasabah baru yang juga membuat kartu kredit, sehingga bisa menambah fee based income," kata Iqbal. "Baru sekarang kita sadari pentingnya kartu kredit."

    Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengatakan perusahannya telah lama berkecimpung dalam bisnis kartu kredit sejak tahun 2000. Hingga November 2010, Bank Mandiri telah menerbitkan lebih dari 1,9 juta kartu dan memiliki merchant partner program promosi  lebih dari 2000 merchant.

    sumber: vivanews

    Selasa, 07 Desember 2010

    Tahir, Bankir Super Kaya yang Pejudo

    BukaBerita - Majalah Forbes kembali merilis daftar 40 orang terkaya di Indonesia pada 2010. Nilai kekayaan 40 orang super kaya itu mencapai US$71 miliar atau sekitar Rp640 triliun.

    Jumlah tersebut meningkat pesat dibandingkan tahun lalu yang tercatat US$42 miliar atau hampir Rp380 triliun.

    Pada urutan pertama, pemilik grup Djarum, Budi dan Michael Hartono, tercatat sebagai orang paling kaya di Indonesia. Total kekayaannya senilai US$11 miliar atau hampir Rp100 triliun.

    Di antara daftar orang terkaya itu terdapat tujuh pendatang baru dengan total kekayaan lebih dari US$8 miliar atau sekitar Rp72 triliun. Salah satu di antaranya adalah Tahir, pemilik Mayapada Group yang salah satu bisnisnya adalah PT Bank Mayapada Tbk.

    Total kekayaan Tahir mencapai US$805 juta atau sekitar Rp7,24 triliun. Pria berusia 58 itu adalah menantu taipan Grup Lippo, Mochtar Riady.

    Dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia versi Forbes, Tahir berada di peringkat ke-26. Total kekayaan Tahir bahkan mengungguli mertuanya, Mochtar Riady, yang mencapai US$730 juta atau setara Rp6,57 triliun.

    Meski namanya tidak sepopuler sejumlah bankir di Tanah Air, Tahir cukup disegani sejawatnya. Saat perayaan ulang tahun ke-20 Bank Mayapada pada Oktober 2010, sedikitnya 2.000 tamu undangan hadir.

    Dia juga tercatat sebagai pemegang saham perusahaan media, PT Wahana Mediatama, yang memiliki izin untuk penerbitan Forbes Indonesia. Taipan dengan empat anak itu juga memiliki saham di sejumlah jaringan rumah sakit.

    Saat ini, Tahir adalah ketua Asosiasi Pengusaha China dan Asosiasi Tenis Meja Indonesia. Penggemar olahraga bela diri itu memegang sabuk hitam karate dan judo.

    Pada Juni 2000, Bank Mayapada yang dimilikinya resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (saat itu masih PT Bursa Efek Jakarta/BEJ).

    sumber: vivanews

    Minggu, 28 November 2010

    Analisis: Saham Bank Plat Merah Pilihan 2011

    BukaBerita -Analis memperkirakan saham perbankkan plat merah masih menjadi saham pilihan untuk portofolio tahun 2011. Vice President Erdhika Elite Securities Muhammad Reza mengatakan hal ini berdasarkan pertumbuhan kredit hingga kuartal III 2010 sebesar 21,2 persen guna mencapai 22 persen di akhir tahun.

    Loan to Deposit Ratio perseroan mencapai 77,06 persen pada september 2010. "Tahun 2011 pertumbuhan kredit mencapai 25 persen dan CAR perbankan akan meningkat menjadi 19 persen terkait rencana rights issue beberapa bank dan LDR tahun 2011 mencapai 85 persen," jelas dia.

    Hal yang sama disampaikan oleh Direktur Utama PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk Jerry Ng. "Kami optimis  tahun depan ekspansi kredit kami akan melebihi tahun ini," kata dia. Sepanjang sembilan bulan tahun 2010, ekpansi kredit BTPN mencapai 39 persen.

    Perseroan pun saat ini tengah memproses penerbitan saham baru senilai Rp 1,32 triliun. Saham ini akan ditawarkan kepada pemegang saham dengan mekanisme 5:1. Artinya setiap lima saham BTPN yang tercatat berhak atas 1 saham rights issue yang diambil dari portepel.

    Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk menambah modal ditempatkan dan modal disetor perseroan menjadi Rp 113,27 miliar dari sebelumnya Rp 94,39 miliar serta ekspansi kredit. Posisi CAR setelah rights issue diperkirakan mencapai 22 persen. Saat ini posisi CAR perseroan sebesar 15,2 persen.

    Bank Negara Indonesia juga berencana melakukan pelepasan saham baru guna meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) hingga diatas 20 persen dari posisi saat ini 12,5 persen. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan melakukan penerbitan saham baru (rights issue) pada Desember 2010 sebanyak-banyaknya 3.374.716.060 (3,37 miliar) saham bernominal Rp375. Perseroan melepas saham baru tersebut di posisi Rp 3100.

    Satu lagi bank pelat merah PT Bank Mandiri Tbk juga berencana untuk melakukan rights issue senilai Rp 14 triliun. Kementrian Badan Usaha Milik Negara memperkirakan eksekusi saham baru Bank Mandiri pada kuartal I atau II tahun 2011.

    Adapun rasio kecukupan modal sektor perbankan hingga kuartal ketiga 2010 mencapai 18,6 persen lebih tinggi dari tahun 2009 dilevel 17,4 persen. "Penambahan CAR ini untuk meningkatkan daya ekspasnsi bank itu sendiri," jelas Kepala Riset Bhakti Securities Edwin Sebayang.  Kredit modal kerja mengalami peningkatan merupakan indikasi ada peningkatan bisnis di sektor riil.

    Riset Bhakti Securities merekomendasikan empat perbankkan BUMN sebagai pilihan portofolio tahun 2010. Antara lain Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Tabungan Negara. "Fokus pada kredit sektor mikro dengan jaringan luas dan tersebar di seluruh Indonesia, ," kata Edwin.

    BRI misalnya sebagai bank dengan portofolio kredit terbesar dan meraih laba besar terbesar di Indonesia. BRI juga berencana untuk mengeluarkan obligasi subdebt guna mempertahankan posisi CAR sebesar Rp 3 triliun dan menurunkan pembayaran dividen menjadi maksimal 30 persen.

    Meski begitu sektor ini rentan terhadap kenaikan suku bunga perbankkan. Seiring dengan pemulihan ekonomi global dan peningkatan ekspektasi inflasi, Bank Indonesia (BI) akan mulai merevisi suku bunga acuan, atau yang dikenal sebagai BI Rate. Kebijakan suku bunga acuan sangat ditentukan oleh laju inflasi.

    sumber: vivanews

    Minggu, 21 November 2010

    10 Negara Super Kaya Di Dunia

    BukaBerita - Kekuatan ekonomi suatu negara biasanya diukur melalui Produk Domestik Bruto (PDB). Menilik angka itu, Amerika Serikat masih menduduki posisi tertinggi sebagai negara kaya melampaui China dan Jepang, Agustus silam.

    Namun, PDB tidak mampu menunjukkan kekayaan negara yang sesungguhnya karena bisa jadi uang itu hanya terkonsentrasi di sejumlah pengusaha, bukan pemerintah. Itulah mengapa nilai Pendapatan Nasional Bruto (PNB) menjadi penting untuk mengukur kekayaan suatu negara.

    Berikut 10 negara dengan PNB tertinggi per kapita, berdasar data terbaru Bank Dunia, seperti dikutip dari laman Daily Finance:

    1. Luxemburg PNB per kapita: $58,810
    Tingkat buta huruf: 1%
    Tingkat pengangguran: 4,8%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 3,7%

    Merupakan daratan kecil yang berbatasan dengan Prancis, Jerman, dan Belgia. Diapit sejumlah negara besar, negara ini tumbuh menjadi salah satu pusat bisnis utama di Benua Eropa. Dalam tiga tahun ke depan, negara ini berencana menyediakan layanan bandwidth dengan kapasitas supertinggi untuk mendorong pengembangan ekonomi digital yang canggih.

    2. NorwegiaPNB per kapita: $55,190
    Tingkat buta huruf: 0%
    Tingkat pengangguran: 1,7%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 6,7%

    Merupakan negara superkaya yang mendapat keuntungan besar dari ekspor minyak bumi pada 1970-an. Pendapatan utama negara ini berasal dari sektor minyak dan gas, juga teknologi dan komunikasi. Saking kayanya, negara ini mampu mendanai berbagai program sosial dan pendidikan tanpa membebani pajak. Tak heran jika tak ada warga buta huruf di sana. 

    3. Kuwait PNB per kapita: $53,390
    Tingkat buta huruf: 6%
    Tingkat pengangguran: 1,3%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 3,8%

    Negara kecil di Timur Tengah ini memiliki 9 persen dari cadangan minyak dunia. Tidak seperti negara penghasil minyak di sekitarnya, negara ini cukup stabil secara politik. Dibanding dengan negara Teluk lainnya, tingkat pendidikan di Kuwait cukup baik. Daya serap tenaga kerja mencapai lebih 98 persen, baik di bidang perminyakan atau ekspor semen dan bata.

    4. Macau PNB per kapita: $52,410
    Tingkat buta huruf: 7%
    Tingkat pengangguran: 3%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 2,2%

    Daerah administrasi khusus di daratan China ini mendapat banyak pemasukan dari ekspor tekstil dan aneka produk manufaktur. Negara ini juga sangat terkenal sebagai salah satu destinasi perjudian dunia yang cukup masyur. Bahkan pada 2006, pendapatan dari sektor judi melebihi Las Vegas. Mayoritas warga memanfaatkannya sebagai ladang bisnis dengan membuka kasino, hotel, dan pembangunan resor untuk menarik wisatawan mancanegara.

    5. Brunei PNB per kapita: $50,920
    Tingkat buta huruf: 5%
    Tingkat pengangguran: 3,7%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 3,7%

    Seperti Norwegia dan Kuwait, sumber utama pendapatan pemerintah adalah dari industri minyak. Sebanyak 60 persen warganya bergantung hidup di sektor itu. Kemapanan finansial membuat pemerintah sanggup memberikan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi. Sekadar catatan, Sultan Brunei bahkan pernah menjadi orang terkaya di dunia. Namun belakangan, ada kekhawatiran, menipisnya cadangan minyak mentah akan menjatuhkan standar hidup negara itu. 

    6. Singapura PNB per kapita: $50,780
    Tingkat buta huruf: 5%
    Tingkat pengangguran: 3,95%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 2,2%

    Singapura mempromosikan diri sebagai pelabuhan yang ramah bagi perdagangan internasional. Pemerintah setempat sangat ketat mengontrol perekonomian rakyat melalui kemajuan bidang industri elektronik dan farmasi. Selain mengedepankan kesejahteraan umum dan jasa publik, pemerintah sangat peduli terhadap tingkat pendidikan masyarakatnya.

    7. Amerika Serikat PNB per kapita: $46,760
    Tingkat buta huruf: 1%
    Tingkat pengangguran: 9,6%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 5,6%

    Jumlah penduduk dan kondisi geografis membuat negara adidaya ini tak muncul sebagai negara paling kaya di dunia. Bahkan angka pengangguran dua kali Luxemburg. Negara ini mengedepankan perekonomi kapitalis yang tak terlalu memprioritaskan program sosial. Namun, negara ini tak ragu menghabiskan anggaran besar untuk pendidikan. Meski tergolong maju, kesenjangan sosial-ekonomi di negara ini cukup kentara.

    8. Hong Kong PNB per kapita: $44,090
    Tingkat buta huruf: 3,4%
    Tingkat pengangguran: 3,6%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 3,3%

    Ekonomi negara ini sangat bergantung pada re-ekspor sejumlah produk. Hong Kong mendapat keuntungan dari transisi ekonomi eksportir industri ke pusat perbankan internasional. Pemerintah Hong Kong pro perdagangan bebas. Negara ini memprioritaskan anggarannya untuk kesejahteraan publik dan pendidikan warganya.

    9. SwissPNB per kapita: $43,440
    Tingkat buta huruf: 1%
    Tingkat pengangguran: 4%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 5,3%

    Masyarakat Swiss mendapat keuntungan dari kebijakan pemerintah yang sangat ramah bisnis. Ini membuat Swiss menjadi pusat investasi dan perbankan internasional. Kebijakan pajak yang sangat ringan juga membuat Swiss tumbuh bak surga bagi para pengusaha kaya dunia untuk menghamburkan uangnya. Sektor jasa makmur telah berkembang untuk memenuhi tuntutan kelompok tersebut. Negara ini juga mendapat keuntungan besar dari ekspor mesin industri dan bahan kimia.

    10. BelandaPNB per kapita: $40,940
    Tingkat buta huruf: 1%
    Tingkat pengangguran: 3%
    Anggaran belanja pendidikan per PDB: 5,5%

    Pemerintah Belanda memainkan peran aktif dalam mempertahankan standar hidup tinggi bagi warganya. Belanda adalah model kebijakan ekonomi sosial liberal dan laissez-faire. Belanda memiliki ekonomi pasar bebas, yang didukung kekuatan pasar penyulingan minyak bumi dan industri mesin listrik. Kebijakan sosial liberal juga mendatangkan keuntungan melalui sektor obat-obatan terlarang dan wisata seks.


    sumber: vivanews

    Jumat, 19 November 2010

    Bank Dunia Utangi Indonesia Rp7,2 Triliun

    Bank Dunia telah menyetujui dua Pinjaman Kebijakan Pembangunan (DPL) dengan nilai total $800 juta atau Rp7,2 triliun untuk terus mendukung program prioritas reformasi yang dimotori pemerintah Indonesia.

    Pinjaman ini bagian dari rangkaian tahunan DPL yang dimulai sejak 2004. Upaya-upaya ini telah berhasil memperbaiki kondisi-kondisi investasi, pengelolaan keuangan publik dan meningkatkan pembangunan infrastruktur. Hal ini menjadi pondasi utama untuk pembangunan yang kuat dan inklusif di Indonesia.

    Dari kedua pinjaman, DPL ketujuh senilai $600 juta bertujuan memperdalam upaya-upaya reformasi yang didukung oleh DPL terdahulu dalam menghilangkan ketidakpastian bagi investor yang hendak menanam investasi; memperkuat pengelolaan anggaran dan dana di pemerintah pusat; dan meningkatkan pengentasan kemiskinan dan pelayanan publik.

    “Selama beberapa tahun terakhir, pengeluaran konsumen dan perkembangan sektor swasta telah menggerakkan perkembangan ekonomi Indonesia. Pembangunan jangka menengah diperkirakan akan bersifat lebih kuat dan inklusif, berkat reformasi-reformasi ambisius yang kini berlangsung di berbagai lini, ” kata Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Stefan Koeberle dalam keterangan yang diterima VIVAnews di Jakarta, Jumat, 19 November 2010.

    “Tren-tren positif ini telah menggugah investor-investor internasional untuk melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia. Karena itu, menjadi penting bagi Indonesia untuk tetap melanjutkan reformasi-reformasi yang bersifat struktural dan institusional".

    Melalui pinjaman lainnya, yaitu Pinjaman Kebijakan Pembangunan Keempat senilai $200 juta, Bank Dunia mendukung upaya Indonesia untuk meningkatkan jumlah dan efisiensi pengeluaran pemerintah di sektor infrastruktur – terutama dalam pengadaan listrik, jalanan, air dan pelayanan sanitasi. Rangkaian DPL telah mendukung peningkatan investasi dalam bidang infrastruktur oleh sektor swasta melalui pembentukan susunan kerjasama antara publik dan swasta serta susunan tata kelola dalam akuisisi lahan, perlindungan lingkungan dan procurement publik.

    “Infrastruktur terus menjadi salah satu kendala dalam investasi di Indonesia. Dalam hal ini, adanya peningkatan pembiayaan dalam sektor infrastruktur oleh pemerintah dalam dana tahun depan merupakan kemajuan positif. Ada perubahan-perubahan penting lainnya yang disusun untuk menarik minat lebih banyak investasi dari kelompok swasta dalam sektor ini, yang akan dibutuhkan untuk jangka panjang,” kata Koeberle.

    Pada akhir 2010, DPL 4 diharapkan dapat membantu Indonesia dalam sejumlah hal: Meningkatkan pembiayaan bidang infrastruktur di tingkat nasional dan sub-nasional sebesar lebih dari 50 persen dan 35 persen berturut-turut sejak 2006. Meningkatkan proporsi subsidi listrik yang diberikan pada konsumen dengan pendapatan rendah. Menyiapkan penawaran-penawaran yang bersaing dan transparan untuk transaksi kerjasama antara public-swasta. Memperbaiki pengeluaran publik dan menawarkan resiko korupsi yang kecil melalui peningkatan transparansi dan akuntabilitas.

    Jumat, 29 Oktober 2010

    Bunga Kredit Turun Tipis

    Suku bunga kredit perbankan kembali mengalami penurunan dan bunga deposito naik pada minggu keempat Oktober 2010. Bank Indonesia (BI) mencatat suku bunga dasar kredit (SBDK) rupiah turun 4 bps dan suku bunga deposito rupiah satu bulan menunjukkan kenaikan rata-rata sebesar 3 bps.

    Demikian hasil Operasi Pasar Terbuka (OPT) yang disampaikan Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah melalui pesan elektroniknya di Jakarta, Jumat (29/10/2010).

    "SBDK rupiah perbankan turun 4 bps karena 4 kelompok bank menurunkan suku bunganya yakni bank persero, bank swasta, kantor cabang bank asing, dan bank campuran. Penurunan tertinggi pada kelompok bank swasta 9 bps," tutur Difi. 

    Sementara, itu suku bunga deposito rupiah 1 bulan rata-rata mengalami kenaikan 3 bps. Kenaikan terjadi pada 3 kelompok bank yaitu bank swasta, kantor cabang bank asing, dan bank campuran.

    "Kenaikan suku bunga deposito tertinggi pada kantor cabang bank asing sebesar 24 bps. Sedangkan bunga deposito BPD turun 5 bps, sementara bank persero tak mengubah suku bunga depositonya," imbuhnya.

    Pada instrumen valas, suku bunga mengalami kenaikan tipis. Jika dilihat per kelompok bank, pergerakan suku bunga yang cukup signifikan terjadi pada kelompok bank swasta yang menaikkan SBDK valas sebesar 5 bps.

    Berdasarkan jenis penggunaannya, Difi mengatakan suku bunga kredit konsumsi lebih tinggi dari kredit modal kerja, dan kredit investasi pada semua bank.




    sumber: detikfinance

    Dana Nasabah Bank Menggemuk Rp 6,65 Triliun dalam Sepekan

    Bank Indonesia (BI) mencatat kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 6,65 triliun dalam jangka waktu sepekan menjadi Rp 2.139,48 triliun. Selama Januari 2010 hingga pekan keempat Oktober 2010, jumlah DPK perbankan tercatat naik 8,58% atau Rp 169,03 triliun dan secara tahunan (year on year) tumbuh sebesar 17,07% atau sebesar Rp 312,03 triliun.

    Demikian hasil Operasi Pasar Terbuka (OPT) yang disampaikan Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah melalui pesan elektroniknya di Jakarta, Jumat (29/10/2010).

    "Pada pekan keempat Oktober DPK naik Rp 6,65 triliun menjadi Rp 2.139,48 triliun yang antara lain disebabkan masih berlanjutnya inflow (arus dana masuk) ke sistem perbankan. Kenaikan DPK tersebut berasal dari DPK rupiah yang naik Rp 6,65 triliun, sedangkan DPK valas turun Rp 820 miliar," jelas Difi.

    Kenaikan DPK rupiah industri perbankan yang cukup tinggi, sambung Difi bersumber dari naiknya DPK rupiah pada 3 kelompok bank yakni swasta, persero, dan kantor cabang bank asing.

    "Tertinggi pada kelompok bank swasta dan persero masing-masing sebesar Rp 3,76 triliun dan Rp 3,28 triliun. Sedangkan DPK rupiah kelompok bank campuran dan BPD mengalami penurunan masing-masing Rp 300 miliar dan Rp 510 miliar," paparnya.

    Untuk DPK valas (non rupiah) tercatat naik pada kelompok bank swasta Rp 990 miliar. Difi mengatakan penurunan tertinggi pada kelompok bank campuran Rp 1,1 triliun. 

    "Jika dilihat per komponen, deposito dan giro mengalami kenaikan masing-masing sebesar Rp 4,2 triliun dan Rp 3,28 triliun. Sedangkan tabungan turun Rp 830 miliar," ungkapnya.

    Dengan perkembangan tersebut, menurut Difi menyebabkan LDR perbankan naik tipis dari 76,95% menjadi 77%. 


    sumber: detikfinance

    LinkWithin