Minggu, 06 Februari 2011

Pelajaran dari Wafatnya Adjie Massaid




BukaBerita (Nasional) ~ Hampir semua orang terkejut mendengar kabar kematian Adjie Massaid. Selama hidupnya, almarhum dikenal sebagai sosok yang gemar berolah raga sehingga selalu tampil bugar di hadapan publik. Lantas, bagaimana serangan jantung bisa dengan begitu mendadak membunuh Manajer Timnas U-23 dan politisi Partai Demokrat ini?

Dokter senior yang pernah menangani mantan Presiden Soeharto, Mardjo Subandono, mengatakan serangan jantung sangat berkaitan dengan gaya hidup seseorang.

Ia mengatakan, orang yang terlihat bugar belum tentu sehat. Mereka yang tidak pernah memiliki riwayat sakit jantung juga belum tentu memiliki kondisi jantung yang baik. Olahraga saja tidak cukup tanpa disertai kebiasaan makan yang sehat. "Intinya serangan atau penyakit jantung bisa dicegah dengan makanan sehat, sayur banyak, olahraga teratur, dan mengurangi lemak jahat," kata dr. Mardjo.

Sebagai tindakan pencegahan, ia menyarankan lima makanan sehat yaitu makanan berwarna merah, putih, hijau, kuning dan hitam. Di antaranya tomat, gandum atau nasi, green tea, wortel. Sementara olahraga, minimal lari pagi tiga kali seminggu selama 30 menit.

Usai makan, juga disarankan berjalan-jalan selama setengah jam agar lemak tidak menumpuk dan segera terbakar. "Kemudian dengan cara sederhana, setiap bangun tidur coba memiringkan badan ke kanan selama setengah menit sebanyak tiga kali, lalu ke kiri setengah menit juga tiga kali," ujarnya.

Namun yang paling penting, check-up kesehatan kardiovaskuler secara rutin. Ini untuk mendeteksi kondisi jantung, risiko penyempitan pembuluh darah, atau gangguan kardiovaskuler lain. "Timbunan lemak yang masuk ke tubuh tidak bisa diketahui kalau tidak pernah check-up," dia mewanti-wanti.

Baca Juga:

Kamis, 03 Februari 2011

Lorenzo Beri Kejutan Yahama




BukaBerita (Sport) ~ Juara bertahan Jorge Lorenzo memulai pra musim 2011 dengan hasil memuaskan dalam sesi tes yang berlangsung di Sirkuit Sepang, Malaysia, Selasa 1 Februari 2011. Lorenzo mencatat waktu kedua tercepat dengan 2 menit 01,997 detik.

Lorenzo hanya kalah dari pembalap Repsol Honda Casey Stoner yang duduk di peringkat pertama dengan waktu 2 menit 01,574 detik. Hasil ini ternyata tidak disangka oleh manajer tim Yamaha untuk Lorenzo yang diwakili Wilco Zeelenberg.

"Saya sebenarnya agak terkejut dengan kecepatan Jorge yang sudah mulai normal setelah sempat libur selama dua bulan," kata Zeelenberg seperti dilansir Paddock Talk, Rabu 2 Februari 2011.

Lorenzo sendiri juga mengakui kalau hasil yang diraihnya cukup memuaskan. Terutama karena ada beberapa hal baru yang diterapkan timnya di motor terbaru dengan nomor balap '1'.

Pembalap asal Spanyol ini juga berjanji bakal memacu motornya lebih cepat lagi di tes hari kedua yang berlangsung hari ini di tempat yang sama."Tampaknya semua yang kami coba menjadikan (motor) sedikit lebih baik, tapi perkembangannya tidak sebesar yang saya harapkan seperti di sesi tes Valencia akhir tahun lalu," kata Lorenzo.

Baca Juga:

Suku Bunga Kredit Kendaraan Bakal Naik?




BukaBerita (Otomotif) ~ PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk menargetkan pertumbuhan pembiayaan pada tahun ini diproyeksikan tumbuh 21,74 persen menjadi Rp28 triliun dibandingkan dengan realisasi 2010 yang diperkirakan sebesar Rp23 triliun.

Presiden Diretur Adira Finance Stanley Setia Atmadja mengatakan, pasar otomotif nasional akan terus tumbuh meski tak sebaik pertumbuhan tahun lalu. Rencana pembatasan BBM bersubsidi dan pemberlakukan pajak progresif kendaraan akan sedikit menghambat penjualan mobil.
"Tapi bagaimana pun industri otomotif akan terus tumbuh," kata dia kepada BukaBerita.com di sela pemberian donasi perkumpulan nirlaba Increso di Jakarta.

Pembiayaan Adira, menurut Stanley, masih didominasi oleh kendaraan roda dua. Sehingga, pembatasan subsidi BBM tidak banyak berpengaruh pada serapan pembiayaan. Pembiayaan mobil, dia menambahkan, hanya sekitar 34 persen.

Potensi lain, menurut Stanley, pembiayaan mobil bekas Adira terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan pada 2010, pembiayan mobil bekas telah menyamai mobil baru. Tak heran, bila pada tahun ini Adira menargetkan bisa memberi pembiayan sebesar Rp4,7 triliun pada mobil bekas.

"Kami melihat potensi pembeli pertama kendaraan," katanya. Selain itu, dia mengatakan, margin pembiayaan kendaraan bekas masih lebih tinggi daripada mobil baru.

Adira saat ini mematok suku bunga pinjaman kendaraan sebesar 8-10 persen untuk mobil baru, dan 9-12 persen untuk mobil bekas. Bagaimana dengan suku bunga beberapa bulan ke depan? "Saya kira cenderung naik," kata Stanley.

Alasannya, tren suku bunga BI Rate akan cenderung naik menyesuaikan inflasi yang tinggi. BI Rate telah bertahan sebesar 6,5 persen sejak Agustus 2009. Ini merupakan suku bunga terendah dalam beberapa tahun terakhir. "Melihat kondisi makro, saya kira sangat sulit BI Rate turun lagi," katanya.

Sementara itu, mengenai Increso merupakan kependekan dari Inspiring others to save (menginspirasi orang lain untuk berbagi), Credible in what we do (kredibel karena ditangani oleh para ahli), Solid team (tim yang solid dalam melayani).

Perkumpulan sosial yang berdiri pada 19 Oktober 2006 ini tidak mengatasnamakan perusahaan, namun dimiliki seluruh karyawan. Tak hanya karyawan Adira, Increso juga dimiliki sejumlah karyawan perusahaan-perusahaan besar untuk memberikan pengobatan bagi pasien tak mampu.

Baca Juga:

2 Anggota DPRD Semarang Ditangkap Pesta Sabu




BukaBerita (Hukum) ~ Dua anggota DPRD Semarang ditangkap Polda Bali saat tengah berpesta sabu-sabu di sebuah kamar hotel di jalan Bakung Sari Kuta, Bali.

Keduanya ditangkap pada Selasa 1 Februari 2011 sekitar pukul 21.45 wita. Dari hasil penggeledahan polisi di kamar 266, telah ditemukan barang bukti satu paket sabu-sabu seberat 0,56 gram dan terbungkus dalam sebuah plastik klip dan diikat dengan isolasi hitam kemudian disimpan dalam bungkus rokok.

Dua oknum anggota DPRD Semarang tersebut adalah EP (37) asal Karangrejo Kecamatan Gajah Mungkur Semarang dan BS (45) asal Badarharjo Semarang.

Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gede Sugianyar saat dikonfirmasi menuturkan, barang bukti juga para tersangka rencananya akan dibeber ke media besok, Jumat 4 Februari 2011.

"Besok saja barang bukti berikut tersangka akan dibuka ke media," kata dia saat ditemui, Kamis 3 Februari 2011.

Dari informasi yang didapat, diduga Edi Purnomo merupakan anggota DPRD Semarang yang duduk Komisi C dari partai Demokrat. Sementara itu, Bambang duduk di Komisi A dari partai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Baca Juga:

Walikota Surabaya Mundur




BukaBerita (Nasional) ~ Wakil Walikota Surabaya Bambang Dwi Hartono resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Padahal, Bambang baru empat bulan mendampingi Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

Saat dihubungi BukaBerita.com, Kamis 3 Februari 2011, Bambang membantah dia sudah enggan mendampingi Risma.

"Apa yang saya lakukan tentu saja tidak ada kaitannya dengan Ibu Risma yang saat ini hubungannya tengah memanas dengan DPRD (Surabaya)," kata Bambang.

Dia menambahkan ada beberapa alasannya untuk mundur. Pertama, dia ingin proses regenerasi di tubuh partai berjalan lancar.

Kedua, lanjutnya, Bambang mengaku ingin punya waktu melakukan konsolidasi partai.  "Saya ingin fokus di kepengurusan partai. Saya ini kan, pengurus DPD PDI-P Jawa Timur," tegas Bambang.

Ketiga, dia ingin menepis anggapan miring terhadap dirinya, terutama terkait kemelut yang terjadi antara Walikota Surabaya Tri Rismaharini dengan DPRD Kota Surabaya.

"Saya tidak mau ada anggapan, saya ada di belakang semua itu," katanya.

Tudingan miring yang dimaksud Bambang adalah anggapan yang menyebut dirinya berambisi ingin merebut posisi Risma.

"Justru, dengan pengajuan permohonan pengunduran diri saya ini, saya ingin mematahkan tudingan yang sangat menyakitkan tersebut. Saya tidak berambisi untuk jabatan itu," tegasnya.

Pengajuan mundur ini, menurut Bambang, dia serahkan Rabu 2 Februari 2011. 

Baca Juga:

Bentrok Mesir: 3 Tewas dan 1.500 Luka-luka




BukaBerita (International) ~ Bentrokan antara massa yang anti pemerintah dengan pendukung Presiden Mesir Hosni Mubarak kembali memakan korban jiwa. Tiga orang tewas dan 1.500 lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Seperti dilansir ABC News, 2 Februari 2011, bentrokan yang mengakibatkan korban tewas itu terjadi di Lapangan Tahrir Square, Kairo, Mesir.

Bentrokan terjadi dengan aksi saling lempar batu dan benda-benda lainnya. Bentrokan dipicu tindakan aparat yang ingin membubarkan aksi demonstrasi dengan meminta massa pulang ke rumah.

Saat itu ribuan pendukung Mubarak yang mempersenjatai diri dengan tongkat dan pisau memasuki alun-alun. Ini merupakan pertamakalinya pendukung Mubarak turun ke jalan. Massa propemerintah ini mulai muncul setelah Mubarak berpidato menolak mundur sampai Pemilu September mendatang.

Bentrokan berlanjut sampai larut malam. Massa pendukung Mubarak juga menyerang demonstran dengan bom-bom molotov dan blok-blok beton. Tapi kedua belah pihak memakai perisai logam untuk melindungi diri dari serangan.

Aksi bentrokan ini merupakan peristiwa terburuk selama aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Mesir dalam sembilan hari terakhir. Kemarin, Mubarak menyatakan tidak akan mundur dan tidak akan ikut lagi dalam Pemilu September mendatang.

Wakil Presiden Omar Suleiman, yang juga mantan kepala intelijen Mesir yang baru diangkat pekan lalu, mengeluarkan seruan kepada demonstran. Suleiman meminta demonstran mengakhiri aksinya agar dialog antara oposisi dan pemerintah bisa dimulai.

"Semua warga diimbau kembali ke rumah dan mematuhi jam malam. Ini untuk meningkatkan upaya pemerintah memulihkan keamanan dan stabilitas, serta mengurangi kerusakan dan kerugian akibat demonstrasi," kata Suleiman.

Baca Juga:

Krisis Mesir, Pelajar RI Gagal Dapat Ijazah




BukaBerita (Internasional) ~ Berbagai keluh kesah dirasakan Warga Negara Indonesia yang telah berhasil dievakuasi dari Mesir. Keputusan meninggalkan Mesir dinilai berat mengingat banyak yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa di Universitas Al Azhar Kairo.

Bahkan, keinginan untuk segera mendapatkan ijazah setelah kuliah tujuh tahun harus kandas akibat kerusuhan di Negara Seribu Menara yang tak kunjung padam hingga saat ini.

"Saya terpaksa meninggalkan Mesir. Padahal, tinggal menunggu ijazah saja. Sebab, memang situasi di Mesir semakin bergejolak," kata Doni Oktariza (25), mahasiswa jurusan syariat Al Azhar Kairo saat ditemui BukaBerita.com di Asrama Haji Pondok Gede, Kamis 3 Februari 2011.

Mirisnya, ia bersama istrinya yang baru saja lulus harus pulang ke Tanah Air tanpa ijazah setelah tujuh tahun menimba ilmu di negeri yang terkenal dengan keindahan Sungai Nil itu. "Sedih pastinya, tapi terpaksa pulang demi keselamatan. Apalagi anak saya masih berusia dua tahun," kata pria asal Padang itu.

Proses perjalanan saat dilakukan evakuasi pun dibayangi rasa cemas dan takut, mengingat harus melintasi ribuan massa yang tengah berdemostrasi. "Saya bawa pakaian seadanya. Bahkan, belum sempat menukar uang dari Pounds ke Rupiah, karena money changer tutup," tutur Doni.

Belum lagi, selama perjalanan dari bandara, kendaraan yang ditumpanginya harus diperiksa petugas militer tentara Mesir. "Polisi sudah tidak ada lagi, semuanya tentara yang turun ke jalan-jalan menggunakan senjata laras panjang," kisahnya.

Proses evakuasi yang terbilang cepat memaksa dirinya membawa barang-barang seadanya, bahkan hanya berbekal pakaian saja. "Barang-barang berharga saya tinggal di tempat Kos dan menitipkannya ke kawan yang memilih bertahan di sana karena alasan kuliah yang sedikit lagi rampung," ujar Doni.

Ia berharap konflik di Mesir segera terselesaikan, sehingga dirinya bisa kembali untuk mengambil ijazah. "Semoga saja aksi penjarahan tidak meluas. Jangan sampai kos saya juga ikut terjarah," harapnya.

Hal senanda juga dirasakan Adeka Chandra (23) dan Nurbaiti (20). Dua mahasiswa Al Azhar Kairo itu mengaku cemas dengan nasib kuliahnya yang terpaksa ditinggalkan sementara waktu. "Situasi di sana memang mencekam, tidak pernah terpikir Mesir bisa seperti ini. Kita seperti di gua, tanpa ada akses informasi apapun, baik telepon maupun internet," kata Nurbaiti yang berasal dari Medan.

Adeka Chandra menuturkan harus melewati aksi demonstrasi di kawasan Tahrir Square untuk dievakusi ke KBRI di Kairo. "Setiap 50 meter kita selalu di-sweeping militer dan warga setempat," kenang dia.

Baca Juga:

LinkWithin