Rabu, 12 Agustus 2009

Pengakuan Agen CIA dan Wawancara dengan Abu Bakar Ba'asyir


- BukaBerita - SINYALEMEN rencana jaringan teroris membunuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dilansir akhir Desember 2005. Adalah Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Syamsir Siregar, yang mengklaim telah mengendus hasil rapat mereka. Sebulan sebelumnya, akhir November, jura bicara Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Fauzan Al-Anshari, kedatangan pria yang mengaku agen Central Intelligence Agency (CIA), telik sandi Amerika.

Agen lokal yang menyebut diri Asep Rahmatan Kusuma, 32 tahun, itu juga mengabarkan rencana pembunuhan presiden. Pelakunya jaringan Daud alias Umar Patek, buronan bom Bali. Informasi Rahmatan dan Syamsir saling menopang. Apakah agen CIA ini sengaja memberi “pengantar” laporan BIN? Tak jelas. Rahmatan hanya bilang ingin tobat, keluar dari CIA. Maka, ia bongkar petualangannya, cara kerjanya, termasuk hasil endusannya tentang agenda Umar Patek.

Rahmatan, dalam pengakuannya, menyusup ke jaringan MMI dan Jamaah Islamiyah (JI). Maka, MMI-lah yang pertama ia kontak saat hendak tobat. “OrganisasiAnda (MMI –Red.) ditarget,” Fauzan mengutip Rahmatan, saat pertama menelepon, Juli 2005. Memang, sejak Juli silam, Rahmatan mengutarakan niat tobatnya. Tapi baru empat bulan kemudian, November, ia bisa menemui Fauzan di rumahnya di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur.

Kepada Fauzan, Rahmatan menjelaskan kronologi keterlibatannya dalam operasi intelijen CIA. Semuanya direkam dan di-transkrip. Ayah satu anak ini juga menulis pernyataan bermeterai, dilengkapi sumpah “Demi Allah” bahwa pernyataannya benar.

Selain paparan lisan pada Fauzan, Rahmatan juga menuliskan petualangannya pada Munarman, Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI). Itu karena Rahmatan minta perlindungan hukum, dan Fauzan menghubungkannya pada YLBHI. Testimoni berikutnya disampaikan pada tim Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pimpinan dr. Jose Rizal. Kali ini direkam dengan kamera video.

Siapa Rahmatan? Dalam tiga pengakuannya itu, ia menyatakan sebagai aktivis Jamaah Tarbiyah, komunitas cikal bakal PKS dan sering berdemo di Kedutaan Besar Amerika. Pernah tergabung dalam Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (Fakta) pimpinan Abu Deedat Syihab. Ayahnya asli Kwitang, Jakarta, dan ibunya asal Banjar, Ciamis, Jawa Barat. Keduanya sudah meninggal. Pria kelahiran Jakarta ini menyelesaikan SMA di Jakarta Timur, lalu kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Depok, Jawa Barat, tapi tak selesai.

Keterlibatannya dengan CIA bermula dari komunikasi internet. Sekitar April 2004, Rahmatan mengirim e-mail ke situs CIA, “Sir, I have information about Islamic movement in Indonesia. This is my number 08176535873.” Surat itu ia kirim karena ingin membuktikan rumor bahwa CIA terlibat dalam operasi intelijen yang menjadikan Islam sebagai sasaran tembak.

Singkat cerita, terjalinlah kontak dengan orang CIA bernama Eric, berkantor di Kedutaan Besar Amerika Jakarta. Eric-Rahmatan beberapa kali bertemu. Baik di kedutaan, sejumlah hotel, maupun kafe. Ia mendapat pelatihan manajemen stres, panduan operasi, serta uji coba penyusupan. Setelah dianggap lulus, pada akhir Juli 2004, Rahmatan meneken kontrak sebagai agen dengan gaji Rp 10 juta per bulan, asuransi kematian Rp 500 juta, dan jaminan perlindungan hukum.

Tugas pertama menyusup ke jaringan JI pimpinan Abu Daud. Ia berhasil dibaiat Daud jadi anggota JI di Bandung. “Daud juga menyatakan, saya siap jadi laskar istimata (bom bunuh diri –Red.),” tulis Rahmatan. Belakangan, setelah melihat foto Umar Patek di sejumlah media, Rahmatan baru tahu bahwa Daud adalah Umar Patek. Dalam jaringan ini, Rahmatan juga dipertemukan dengan Zulkarnain –kerap disebut sebagai panglima sayap militer (asykari) – JI di Pandeglang.

Saat masuk lingkaran Daud itulah, Rahmatan tahu ada rencana membunuh SBY. “Rencana ini dikemukakan Daud di Bandung pada saya,” tulisnya. “Jika SBY memenangkan pemilu dan menjadi presiden.” Jadi, rencana itu sudah terpikir sebelum SBY jadi presiden. “Dengan alasan, SBY yang merancang serta membuat Undang-Undang Antiteroris,” Rahmatan menambahkan.

Program lain Daud adalah menyerang Kedutaan Besar Amerika atau Istana Presiden. Untuk aksi itu, Daud pernah minta Rahmatan membelikan pesawat terbang mini dengan radio control. Daud juga minta dibuatkan peta Monas, Jakarta, karena posisi istana dan kedutaan di kiri-kanan Monas. Rancangannya, bom kecil ditanam di pesawat itu, dikendalikan lewat remote control. “Mereka ingin bikin semacam little nine one-one (9/11 mini –Red.) di Indonesia,” ujar Rahmatan kepada Fauzan.

Rahmatan mengaku baru sadar bahwa MMI jadi target –seperti ia sampaikan pada Fauzan ketika terjadi penangkapan sembilan paket bom dalam bus dari Garut di Bandung, 17 Desember 2004. Pada malam sebelum penangkapan, ia diperintah Eric (orang CIA dengan panggilan sandi “Paman”), agar mengirim anggota MMI naik bus dari Garut ke Bandung pukul 05.00. Diperkirakan, di bus itulah ditaruh bahan peledak. Sehingga, saat bus dihadang, ada orang MMI yang diringkus. “Saya yakin, ada rekayasa untuk menjebak anggota MMI tersebut,” tulis Rahmatan pada Munarman.

Ia punya catatan lain setelah beraksi menyusup ke MMI. Bahwa di tubuh MMI sudah banyak agen yang ditanam. Kepada Fauzan, Rahmatan menyebutkan ada tiga orang MMI berinisial “H” yang terindikasi direkrut jadi agen intelijen. Lalu, dalam pengakuan tertulisnya pada Munarman, ia mengutip penjelasan Heru, kolega Daud di Malaysia, bahwa Fauzan dan Irfan Awwas adalah kader JI sewaktu di Malaysia.

Orang berinisial “H” yang pertama berada di Yogyakarta. Ia memperlancar kunjungan Rahmatan ke kantor MMI Yogyakarta, saat menjalankan tugas Daud. Mr. H ini kemudian rutin mengirim informasi penting pada Rahmatan meski tak diminta. Misalnya jumlah rinci demonstran pro-Ba’asyir dari Yogyakarta. Tentang H Yogya ini, menurut Rahmatan, Eric bilang, “He is our friend.”

Mr. H Yogya itu mengarah pada Harun, staf humas MMI Yogyakarta. Di bagian awal testimoninya, Rahmatan menyebut nama Harun, sosok yang amat membantunya ketika berkunjung ke Yogya. Bahkan Harun sudah tahu nama Rahmatan sebelum diperkenalkan. Lalu Harunlah yang menyuruh Rahmatan “minta restu” pada Abu Bakar Ba’asyir di Cipinang.

H berikutnya ia sebutkan berada di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Tampaknya merujuk pada nama Hasyim, staf pribadi Ba’asyir. Karena ciri H Cipinang yang ia paparkan sama dengan ciri Hasyim yang ia terangkan di bagian awal pengakuan. Bahwa sosok inilah yang membantu memuluskan masuknya Rahmatan ke sel Ba’asyir.

Hanya dengan menyebut: “Saya membawa amanah dari Ustad Harun Yogyakarta”, H Cipinang langsung percaya. Ba’asyir juga bersedia membubuhkan tanda tangan di mushaf Al-Quran mini milik Rahmatan. H yang ketiga juga di Jakarta, dijelaskan sebagai Komandan Laskar Mujahidin Jakarta.

Harun dan Hasyim menyangkal tudingan sebagai agen intel. “Itu hanya fitnah dan cara memecah belah kami,” ujar Harun kepada Mukhlison S. Widodo dari GATRA. Harun membenarkan pernah menerima kunjungan Rahmatan. Tapi ada fakta yang dibalik. Bukan Harun yang proaktif menyuruh Rahmatan minta restu Ba’asyir. Rahmatanlah yang minta-minta dipertemukan dengan Ba’asyir karena mau mendirikan MMI Tangerang.

Soal Harun aktif mengirim informasi pada Rahmatan juga disangkal. Rahmatanlah yang menghubungi. Hasyim juga mengakui pernah mengantarkan Rahmatan ketemu Ba’asyir. Ia tak curiga apa-apa, karena Rahmatan membawa rekomendasi Harun. Seingat Hasyim, tidak ada pembicaraan aneh dan mencurigakan saat Rahmatan bertemu Ba’asyir. Yang pasti, pada pertemuan itu Rahmatan minta tanda tangan Ba’asyir di mushafnya.

Tim MER-C yang menyaksikan perekaman pengakuan Rahmatan menyimpulkannya sebagai tukang tipu. Jose Rizal sengaja mengumpulkan sejumlah dokter MER-C yang pernah ke Ambon dan terlatih mengendus aksi intel. “Semua menyatakan, hati-hati, Bang, ini tukang tipu. Pura-pura tobat,” kata Jose. “Feeling kita ini cukup ampuh waktu di Ambon. Beberapa intel ketahuan dari feeling kita.”

Jose menilai, tekanan utama pengakuan Rahmatan bukan soal keterlibatan CIA. Melainkan pada penyebaran kecurigaan terhadap beberapa orang di MMI. Berikutnya, ia hendak mengaitkan MMI dengan kelompok pembuat bom. “Kita tidak bisa jamin apakah Umar Patek memang berencana bunuh presiden,” katanya. Dalam persidangan Abdullah Sunata di Jakarta, Kamis lalu, terungkap, Umar Patek pada Oktober 2004 berada di Filipina. Sementara Rahmatan mengaku bertemu. Mana yang benar?

Bagi CIA, kata Jose, agen sekelas Rahmatan terbongkar satu tidak rugi. Kecuali agen inti selevel menteri. Tetapi efek paparan dan analisis dia besar. “Ancaman pembunuhan atas presiden, ancaman atas Kedutaan Besar Amerika, jadi legitimate,” ujar Jose. Bahwa CIA bermain di Indonesia, sejak zaman PRRI semua orang tahu. “Jadi, pinter nih master mind-nya,” Jose menambahkan. Ibarat main bilyar, kata Jose, pengakuan itu banyak tendangan sampingnya. “Dia mau membidik bola di sana tetapi lewat jalan lain.”

Analisis Jose juga dianut Munarman dan Fauzan. “Kemunculan intel CIA yang tobat ini hanya untuk membenarkan sinyalemen Syamsir Siregar bahwa ada rencana pembunuhan presiden. Itu pesan pentingnya,” kata Munarman. “Untuk membenarkan bahwa JI ada, masih bekerja, dan mengubah metode perjuangannya.” Dampak lebih jauh, “Proyek terorisme tetap bisa digulirkan dan uang akan mengalir seperti air.”

Ketua MMI, Irfan Awwas, tidak mau bereaksi berlebihan meski organisasinya jadi bidikan. “Ada keinginan untuk memancing-mancing supaya kami bereaksi, tapi kami tidak khawatir,” katanya. “Meng-inteli Majelis Mujahidin, kalau yang dicari aib dalam kaitan dengan apa yang mereka sebut teroris, pasti gagal karena itu tidak pernah jadi program Majelis Mujahidin.”

GATRA mencoba konfirmasi pada Kedutaan Amerika di Jakarta soal keberadaan Eric dan kerja samanya dengan Rahmatan. Asisten Atase Pers Kedutaan, Shannon Quin, hanya menjawab singkat. “Tak ada komentar dan tak ada tanggapan atas masalah ini,” ujarnya kepada Rahman Mulya dari GATRA.

Selain materi pengakuan, gelagat Rahmatan juga mengundang curiga. Ia sudah tiga kali kabur. Saat ia dibawah proteksi YLBHI, diinapkan di hotel Mega, Jakarta, tiba-tiba kabur tanpa pamit ketika disiapkan forum testimoni. Setelah itu, atas saran Fauzan, ia dilindungi MER-C. Ia kabur lagi ketika dibonceng motor untuk mengecek validitas print out rekeningnya. Pada cetakan itu, Rahmatan menunjukkan sejumlah transfer dari nama-nama orang asing.

Rabu malam pekan lalu, Rahmatan menyanggupi bertemu MMI dan MER-C di kantor GATRA. Lagi-lagi, ia membatalkan secara sepihak. Dengan alasan sedang dalam perlindungan Abu Hamdan, mantan Ketua Departemen Asykari MMI. Ia tak bisa ditelepon. Namun masih melayani kontak SMS Herry Mohammad dari GATRA. Ia meyakinkan GATRA bahwa tengah serius membersihkan diri.

Abu Deedat, Koordinator Fakta, mengenal dekat Rahmatan. “Ghirah Asep sangat tinggi untuk tahu sesuatu. Namun kontrolnya kurang. Ini cenderung mudah dimanfaatkan orang,” katanya kepada Deni Muliya Barus dari GATRA. Menurut Deedat, itu juga dipengaruhi ekonomi keluarganya yang kurangstabil. “Padahal, pemahaman agamanya bagus, namun akhlaknya kurang, masih suka ada bohongnya.”

Ketika dikonfirmasi ihwal berbagai penilaian bahwa pertobatannya adalah bagian operasi intelijen untuk mengaitkan MMI dan Ba’asyir dengan jaringan pengebom, Rahmatan menyatakan keberatan bila pengakuannya dimuat GATRA. Pada Jumat petang, saat deadline penulisan, Rahmatan mengirim pernyataan tertulis lewat seorang utusan.

“Pada hari ini, Jumat tanggal 6 Januari... mencabut seluruh keterangan yang pernah saya berikan kepada Saudara Fauzan Al-Anshari... baik berupa tulisan maupun rekaman suara, yang berisikan pengakuan atas pengalaman saya sebagai orang yang bekerja untuk kepentingan CIA,” tulis Rahmatan. “Seluruh pengakuan saya kepada Saudara Fauzan... saya nyatakan tidak sah dan tidak berlaku lagi, dan seluruh hal yang terkait dengan Fauzan saya nyatakan batal.”

Menyikapi pencabutan itu, Fauzan makin yakin, misi Rahmatan memang mengadu domba aktivis MMI. “Itu mempertegas agendanya untuk memfitnah MMI dan Ustad Abu,” katanya. Pernyataan itu hanya mencabut keterangan pada Fauzan. Pengakuan dalam rekaman video di kantor MER-C tidak disinggung.

ASRORI S. KARNI, M. AGUNG RIYADI, DAN LUQMAN HAKIM ARIFIN
Gatra 14 Januari 2006, hal. 24-27.





-  


Baca Surat Pengakuan dan Pernyataannya




Abu Bakar Ba’asyir: Intel Itu Orang Munafik


imageAKTIVITAS intelijen bukan hal baru bagi Ustad Abu Bakar Ba’asyir. Amir Majelis Mujahidin yang masih ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, ini terbiasa diinteli. Pengakuan intel CIA bernama Asep Rahmatan Kusuma tidak membuat Ba’asyir kaget. Berikut petikan wawancara Luqman Hakim Arifin dari GATRA dengan Ba’asyir di LP Cipinang, Jumat lalu.


Komentar Anda tentang pengakuan Asep Rahmatan sebagai agen CIA?


Oh, anak itu… Itu harus diungkap ke publik! Ini bukti bahwa CIA ada di Indonesia. Selama ini, kan selalu dibantah.


Anda mengenal Rahmatan?


Tidak. Hanya saja, dia pernah datang ke sini minta tandatangan saya.


MMI pernah disusupi intel Abdul Haris. Sekarang disusupi lagi. Anda merasa kecolongan?


Tidak. Kecolongan apa, wong kecelek, kok. MMI tidak ada rahasia. Program kami jelas, memperjuangkan syariat Islam.


Adakah aktivitas Rahmatan yang merugikan Anda?


Ada. Yang merugikan, dia telah meminta tanda tangan saya di atas Qur’an yang dibawanya. Itu bisa untuk macam-macam. Menurut pengakuan dia sendiri, CIA sangat senang ia mendapatkan tandatangan saya.


Kenapa orang yang tercatat punya akidah kuat, pernah berjihad, justru menjadi intel?


Itu karena uang! Dunia ini mataa’ul ghurur, kenikmatan yang menipu. Tak mengherankan jika banyak ulama dan orang pintar tersesat karena uang. Itu namanya musibah iman.


Bisakah “tobat” Rahmatan Anda terima?


Bisa. Wong Allah saja meneirma. Masih teruka. Tapi harus betul dipelajari apakah dia jujur atau tidak.


Harapan Anda terhadap Rahmatan?


Dia harus benar-benar tobat, lalu beralih membela Islam dan memusuhi Amerika.


Bagaimana kedudukan intel dalam Islam?


Intel itu orang munafik. Intel itu hukumnya murtad. Sebab semua orang yang menginteli umat Islam itu pasti merugikan Islam. Saya menganjurkan mendoakan mereka, diajak, agar kembali di jalan Allah dan mendapat hidayah.

Dikutip dari sumber: Gatra 14 Januari 2006, hal. 27.

0 komentar:

Posting Komentar

LinkWithin